Cewek SMA Free Bokingan

Umur  aku  sekarang 18 tahun dan cerita ini merupakan kisah yang aku alami. aku termasuk type cewek yang gaul dalam berteman, karena dengan postur bawaan dan dari lahir dengan kulit bersih dan putih, tinggi 165 cm dengan tubuh yang ideal.
cerita dewasa cewek bokingan, kisah sex wanita BO, cerita mesum cewek BO, ngentot wanita free, kisah seks baru, kentu wanita 2018, kumpulan gambar seks wanita hot,
Cewek SMA Free Bokingan
Banyak dari teman laki-laki yang melirik aku. Dan tidak heran banyak laki-laki yang se umuran aku mencoba mendekati. Dengan rambut yang halus dan menawan banyak orang yang melirik. Dari berbagai kalangan teman laki-laki banyak yang mengatakan aku sangat anggun.

Aku adalah gadis berusia 18 tahun. kawan-kawan mengatakan aku cantik, tinggi 170, kulit putih dengan rambut lurus sebahu. aku termasuk populer diantara kawan-kawan, pokoknya keren. Suatu saat aku dan enam orang kawan Siska (19), Mita (20), Anton (22), Vito (22), Toni (23) dan Andri (20). menghabiskan liburan dengan menginap di villa keluarga Andri di Puncak.

Siska postur lumaya tingg tinggi (163 cm) memiliki tubuh padat dengan kulit putih, sangat sexy apalagi dengan ukuran payudara 36b-nya, Siska telah berpacaran cukup lama dengan Anton. Diantara kami bertiga Mita yang paling cantik, tubuhnya sangat proporsional tidak heran kalau sang pacar  Vito sangat tergila-gila dengannya.

Sementara aku, Andri dan Toni masih belom punya pasangan. Andri yang berdarah India sebenarnya suka sama aku, dia lumayan ganteng hanya saja bulu-bulu dadanya yang lebat terkadang membuat aku ngeri, karenanya aku hanya menganggap dia tidak lebih dari sekedar teman.

Acara ke puncak kami mulai dengan jalan-jalan disalah satu kafe terkenal di kota kita. Larut malam baru tiba di Puncak dan langsung menyerbu kamar tidur, kami semua tidur dikamar lantai atas. Udara dingin membuat aku terbangun dan menyadari hanya Siska yang ada sementara Mita entah kemana. Rasa haus membuataku  beranjak menuju dapur untuk mengambil minum.

Sewaktu melewati kamar belakang dilantai bawah, telinga aku menangkap suara orang yang sedang bercakap-cakap. Kuintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, ternyata Vito dan Mita. Niat menegur mereka, aku urungkan.Karena aku lihat mereka sedang berciuman, awalnya kecupan-kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan-lumatan. Keingintahuan akan kelanjutan adegan itu, menahan langkah aku menuju dapur.

Adegan ciuman itu bertambah liar mereka saling memagut dan uyel-uyelan, terlihat lidah Vito menjalar bagai bagai ular ke telinga dan leher sementara tangannya menyusup kedalam kaos ketat dan meremas-remas payudara, yang menyebabkan Mita mendesah-desah. Suara desahannya terdengar sangat sensual dan erotis.

Disibakkannya kaos ketat Mita dan lidahnya menjalar dan mengutik-ngutik di putingnya, menghisap dan meremas-remas payudara Mita.  Setelah itu tangannya mulai menjalar ke daerah bawah, mengelus-elus bagian sensitif yang tertutup g-string.  Vito berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi sepertinya Mita gak mau. Pelan-pelan aku dengar pembicaraan mereka.

"Jangan To" tolak Mita.
"Kenapa sayang" tanya Vito.
"Aku belum pernah.. gituan"

"Makanya dicoba sayang" bujuk Vito.

"Takut Vito. . . " Mita beralasan.
"gak apa apa kok ? ? santai aja ? ?" lanjut Vito membujuk

"Tetapi ViTo . . ."

"Gini aja dech", sahut Vito,
"Aku cium aja, kalau kamu ngga suka kita berhenti"

"Janji ya ViTo" sahut Mita ingin meyakinkannya.

"Janji" Vito meyakinkan Mita.

Vito tidak membuang-buang waktu, ia membuka kaos ketat dan celana pendeknya dan kembali menikmati bukit kenikmatan Mita yang indah itu, perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Vito mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun g-string Mita. Dengan hati-hati Vito membuka kedua paha Mita dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh Mita  bergetar merasakan lidah Vito.

"Arrgghh.. Vito..
“Oohh.. Enaaaaaakk.. Vitoo . . . . "

Mendengar desahan Mita, Vito semakin liar, Vito bahkan menghisap-hisap kewanitaan Mita dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Mita, tubuhnya menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya mengusap-usap dan menarik-narik rambut Vito, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang mereka rasakan.

Mita semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut Vito melahap kewanitaannya. Kepalanya mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai, semua yang diraih dicengramnya kuat-kuat. Mita sudah tenggelam dan setiap detik berlalu semakin dalam Mita menuju ke dasar lautan birahi.

Vito tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya. Vito membuka CDnya dan merangkak naik keatas tubuh Mita., mereka bergumul dalam keadaan bugil yang berbalut birahi. Sesekali Vito di atas sesekali dibawah disertai gerakan erotis pinggulnya Mita,  tidak tinggal diam Vito melakukan juga yang sama. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan. Melihat itu semua membuat degup jantung berdetak kencang dan bagian-bagian sensitif di tubuhku mengeras.. aku mulai terjangkit virus nafsu birahi mereka.

Vito kemudian mengangkat tubuhnya yang ditopang satu tangan, sementara tangan lain memegang kejantannya. Vito mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha Mita. "Jangan ViTo, katanya cuma cium aja" sanggah Mita.

"Santai ya Mita. . . ." bujuk Vito, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan Mita.

"Tapi.. ViTo.. OOOohh.. aahh"
protes Mita tenggelam dalam desahannya sendiri.

"Nikmatin aja Mita"

"Uhh.. Arrkkhh.. Uhh . . . mpprrhh" Mita semakin mendesah.

"Gitu Mita.. Rileks.. nanti lebih enak lagi"

"Huum Vito .. eeaaasshh . .  ."

"Enak Mita..?"

"Ehh.. enaakk Vito"

Aku benar-benar melongoo dibuatnya. Seumur hidup belum pernah aku melihat milik pria yang sebenarnya, apalagi adegan langsung seperti itu.

Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Mita yang terdengar.
"Aku masukin ya Mita. . . “ pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.

Vito langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan Mita.
"Aakhh.. ViTo.. eengghh . . .arrgh . . ." erang Mita cukup keras.

 Membuat bulu-bulu ditubuh aku merekah mendengarnya.

Vito lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Mita.

"Teruss.. ViToo.. Enak banget.. ohh.. isep yang kerass sayaaangg" Mita meracau.

"Aku suka sekali payudara kamu Mita.. mmhh"

"Aku juga suka kamu isep Vito.. ahh"
Mita menyodorkan dadanya membuat Vito bertambah mudah melumatnya.

Bukan hanya Mita yang terayun-ayun gelombang birahi, aku yang melihat semua itu turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar aku mulai meremas-remas payudara dan memainkan puting aku sendiri, membuat mata aku terpejam-pejam merasakan nikmatnya.

Vito tahu Mita sudah pada situasi hubungan intim, Vito merebahkan badannya menindih Mita dan memeluknya seraya melumat mulut, leher dan telinga Mita dan.. kulihat Vito menekan pinggulnya, dapat kubayangkan bagaimana kejantanannya mendesak masuk ke dalam lubang kenikmatan Mita.
"Auuwww.. ViTo.. atiiiitt" jerit Mita.

"Pelan-pelan Vito. . . "

"Rileks Mita.. supaya enak nanti" bujuk Vito.
Sambil terus menekan lebih dalam lagi.

"Sakit ViTo.. pleasee.. jangan diterusin"

Terlambat.. seluruh kejantanan Vito telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Mita. Beberapa saat Vito tidak bergerak, ia mengecup-ngecup leher, pundak dan akhirnya payudara Mita kembali jadi santapan lidah dan mulutnya.

Perlakuan Vito membuat birahi Mita terusik kembali, ia mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Bagian belakang tubuh Vito yang mulai dari punggung, pinggang sampai bokongnya tak luput dari remasan-remasan tangan Mita.

Vito memahami sekali keadaan Mita, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging Mita yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.
"Uhh.. ohh.. ViTo" desah kenikmatan Mita, kakinya dibuka lebih melebar lagi.

Vito tidak menyia-nyiakan kesempatan ini tempo dipercepat gerakan pinggulnya.

"Agghh.. ohh.. terus Too" Mita meracau

Merasakan kejantanan Vito yang berputar-putar di kewanitaannya.
Kepalanya mendangak dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon. Vito tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya di dalam lubang vaginanya.

"Aaauugghh.. sshh.. ViToo.. ohh.. viToo"
Sepertinya Mita tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar, begitu aku dari mulutnya.

Bokong Vito yang turun naik dan kaki Mita yang terbuka lebar membuat darahku berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifku, aku masukan tangan kiri kebalik celana pendek dan CD. Tubuh aku bergetar begitu jari-jemariku meraba-raba kewanitaan aku.

"Ssshh.. sshh" desisku
Tertahan manakala jari tengah aku menyentuh bibir kemaluan yang sudah basah, sesaat tontonan langsung  Vito dan Mita  terlupakan. Kesadaranku kembali begitu mendengar pekikan Mita.
"Adduuhh.. ViToo.. nikmat sekalii"
 Dan Mita terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.

"Nikmati MIta.. nikmati sepuas-puasnya"

"Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak ViToo"

"Punya kamu enaakk sekalii Mita.. Uuugghh"

"Ooouchh.. Vitoo , . . . aku sayang kamu.. mmhh" desah Mita seraya memeluk.Pujian Vito rupanya membuat Mita lebih agresif. Bokongnya bergoyang mengikuti ritme irama hentakan-hentakan turun-naik bokong Vito.

"Enaak Mita.. goyang teruuss.. uhh.. eenngghh" merasakan goyangan Mita.
Vito semakin mempercepat hentakan-hentakan kejantanannya.

"Ahh.. aahh.. ViToo.. teruss.. sayaang" pekik Mita.

Semakin liar keduanya bersetubuh, keringat kenikmatan membanjiri menyelimuti tubuh mereka.
"ViToo.. tekan sayangg.. uuhh.. aku mau ke.. keluaaar.. aarrrgghh. . .  .Mmmh. . . ." erang Mita.
Vito menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh keduanya pun mengejang. Desahan menggerang kenikmatan mereka memenuhi ruangan kamar dan kemudian keduanya terkulai lemas.

Dikamar aku gelisah mengingat-ingat kejadian yang baru saja  aku lihat, bayang-bayang Vito menyetubuhi Mita begitu menguasai pikiranaku . Tak kuasa aku menahan tangan aku  untuk kembali mengusap-usap seluruh bagian sensitif di tubuh aku  namun keberadaan Siska sangat mengganggu, menjelang ayam berkokok barulah mata aku terpejam. Dalam mimpi adegan itu muncul kembali hanya saja bukan Mita yang sedang disetubuhi Vito , tetapi diriku.

Jam 09.00 pagi harinya kita jalan-jalan menghirup udara puncak, sekalian membeli makanan dan cemilan sementara Siska dan Anton menunggu villa. Belum lagi 25 menit meninggalkan villa perutku tiba-tiba mulas, aku mencoba untuk bertahan, tidak berhasil, bergegas aku kembali ke villa.

Selesai dari toilet aku mencari Siska dan Anton, rupanya mereka sedang di ruang TV dalam keadaan.. telanjang. Lagi-lagi aku mendapat suguhan tontonan langsung yang dasyaat. Tubuh Siska setengah melonjor di sofa dengan kaki menapak kelantai, Anton berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kaki Siska,

Mulutnya mengunyam-ngunyam kemaluananya Siska, tak lama kemudian Anton meletakan kedua tungkai kaki Siska dibahunya dan kembali menyantap segitiga bermuda yang semakin terpampang dimukanya. Tak ayal lagi Siska berkelojotan di perlakukan seperti itu.


“Arrrghh . . . Uhh. . . ." desis Siska.

"Iyess. . . Oohh.. Anton.. nikmat sekalii.. Sayang"

"Gigit.. Anton.. pleasee.. gigitt"

"Ahh. . . Auuwww.. pelan sayang gigitnyaa"

Melengkapi kenikmatan yang sedang melanda dirinya satu tangan Siska mencengkram kepala Anton, tangan lainnya meremas-remas payudara 37b-nya sendiri serta melintir melintir putingnya.

Beberapa saat kemudian mereka berganti posisi, Siska yang berlutut di lantai, mulutnya mengulum kontol Anton, kepalanya maju mundur, tangannya mengocok-ngocok batang kontol itu, sekali-kali dijilatnya bagai menikmati es krim coklat. Setiap gerakan kepala Siska sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi Anton.

"Aaarrhh.. aauugghh.. teruss sayangg" desah Anton.

"Ohh.. sayangg.. enakk sekalii"

Suara desahan dan erangan membuat Siska tambah bernafsu melumat kontol Anton.
"Ohh.. Siska.. kuaaat.. masukin  ya sayangg" pinta Anton.

Siska menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut disofa dengan pinggul Anton berada diantara pahanya, tangannya menggapai batang kontol Anton, diarahkan kemulut vagina nya dan dibenamkan.

"Aaarrgghh" keduanya melenguh panjan.

Merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif mereka masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya Siska mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja Anton mengeliat-geliat merasakan batangnya kontol nya diurut-urut oleh vaginanya Siska.

Sebaliknya, milik Anton yang menegang keras dirasakan oleh Siska mengoyak-ngoyak dinding dan lubang vagina nya. Suara desahan, desihan dan lenguhan saling bersaut manakala kedua insan itu sedang dirasuk kenikmatan duniawi yang luar biasa dasyat nya.

Tontonan itu membuat aku tidak dapat menahan keinginan aku untuk meraba-raba. Sekujur tubuh, rasa gatal begitu merasuk kedalam kemaluan. aku tinggalkan tontonan langsung itu bergegas menuju kamar. Kulampiaskan birahiku dengan mengesek-gesekan bantal di vagina aku. Merasa tidak puas kusingkap rok miniku, kuselipkan tanganku kedalam CD-ku membelai-belai bulu-bulu tipis di permukaan vaginaku dan.. akhirnya ku mainkan juga klitoris aku.

"Aaahh.. sshh.. eehh" desahku
Merasakan nikmatnya elusan-elusanku sendiri, jariku merayap tak terkendali ke bibir vaginaku , membuka belahannya dan bermain-main ditempat yang mulai basah dengan cairan pelancar, manakala kenikmatan semakin membalut diriku.

Secara tiba-tiba pintu terbuka, Siska yang masih dengan pakaian kusut menerobos masuk ke kamar yang aku tiduri. Untung aku masih memeluk bantal, sehingga kegiatan tanganku tidak terlihat olehnya.

"Ehh .. kok ada disini, bukannya tadi ikut yang lain?" sapa Siska terkejut.

"IyaSiska.. balik lagi.. perut mules"

"Aku suruh Anton beli obat ya"

"Ngga usah Siska.. udah baikan kok"

"Yakin r?"

"Iya ngga apa-apa kok" jawabku meyakinkan Siska yang kemudian kembali ke ruang tengah setelah mengambil yang dibutuhkannya. Lenyap sudah nafsu birahi aku karena rasa kaget itu.

Malam harinya selesai makan kami semua berkumpul diruang tengah, Andri langsung memutar Film DVD Semi. Adegan demi adegan di film mempengaruhi kami, terutama kawan-kawan pria, mereka kelihatan gelisah.

Film masih setengah main, Siska dan Anton menghilang, tak lama kemudian disusul oleh Mita dan Vito. Tinggal aku, Toni dan Andri, kami duduk dilantai bersandar pada sofa, aku di tengah. Melihat adegan film yang bertambah panas membuat birahiku terusik. Rasa gatal menyeruak di vaginaaku mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, aku jadi salah tingkah. Toni yang pertama melihat kegelisahan aku.

"Kenapa. . .,??gelisah banget horny ya" tegurnya bercanda.

"Ngga lagi, ! ! ! ngaco kamu Toni" sanggahku.

"Kalau horny bilang aja.. hehehe.. kan ada kita-kita" Andri menimpali.

"Uh. . . nih berdua, nonton aja atuh" sanggahku lagi menahan malu.

Toni tidak begitu saja menerima sanggahanku, diantara kami ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang aku rasakan. Toni tidak menyia-nyiakannya, bahuku dipeluknya seperti biasa Toni lakukan, seakan tanpa tendensi apa-apa.

"Santai ya. . ., kalau horny enjoy aja, gak usah malu..
itu artinya kamu normal" bisik Toni sambil meremas bahu aku.

Remasan dan terpaan nafas Toni saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuh aku merekah, tanpa terasa tangan aku meremas celana nya. Toni menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya.

"Remas aja paha aku Say . . daripada celananya" bisik Toni lagi.

Kalau sedang bercanda jangankan paha, penis yang terangsang saja kadang aku remas tanpa rasa ampun, kali ini merasakan paha Toni dalam remasan aku membuat darah aku berdesir keras.
"Ngga usah malu Say, santai aja" lanjutnya lagi.

Entah karena bujukannya atau aku sendiri yang menginginkan, tidak jelas, yang pasti tangan aku  tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang HOT kuremas pahanya.
Merasa mendapat angin, Toni melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas paha aku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuat aku merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan Toni sudah berada dipaha dalam aku, tangannya mengelus-elus dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuat aku membiarkan kenakalan. Tangan Toni yang semakin menjadi-jadi dan liar.

"Say aku suka deh liat leher sama pundak kamu" bisik Toni seraya mengecup pundak aku.
Aku yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.

"Jangan Toni" namun aku berusaha menolak.

"Kenapa Say, cuma pundak aja kan" tanpa perduli penolakan aku Toni tetap saja mengecup, bahkan semakin naik ke leher, disini aku tidak lagi berusaha jaim.
"Toni.. ahh" desahku tak tertahan lagi.

"Enjoy aja Say" bisik Toni lagi.
Sambil mengecup dan menjilat daun telinga aku.

"Ohh Toni . . . " aku sudah tidak mampu lagi menahan.
Semua rasa yang terpendam sejak melihat tontonan langsung dan film, perlahan merayapi lagi tubuh aku.

Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Toni di leher dan telinga aku. Andri yang sedari tadi asik nonton melihat aku seperti itu tidak tinggal diam, Andri pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiri aku jadi sasaran mulutnya.

Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Toni semakin naik hingga akhirnya menyentuh vagina aku yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di vagina aku, remasan Andri di payudaraaku dan kehangatan mulut mereka dileher aku membuat lahar birahiku meledak sejadi-jadinya.

"Agghh.. Toni.. . .”
“Arrggh. . .Andri . . “
“OOouhh.. sshh. . ." desahanku bertambah keras.

Andri menyingkap tang-top dan  BH aku bukit kenyal 36b-aku meloncat, langsung dilahapnya dengan rakus. Toni juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba vagina aku yang sudah basah oleh cairan pelican aku. aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuh aku bergelinjang keras.

"Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh" desahan aku
Berganti menjadi erangan-erangan.

Mereka melucuti seluruh penutup tubuh aku , tubuh polos aku dibaringkan dilantai beralas karpet dan mereka pun kembali menjelajahinya. Andri melumat bibir aku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulut aku, lidah kita pun saling bergeliatt, mengait dan menghisap dengan liarnya.

Sementara Toni menjilat-jilat paha aku lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di vagina aku, lidahnya bergerak-gerak liar di klitoris aku, bersamaan dengan itu Andri pun sudah melumat payudara aku, puting aku yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

Diperlakukan seperti itu membuat gw kehilangan kesadaran, tubuh aku bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Bahkan aku mulai berani punggung Andri kuremas-remas, kujambak rambutnya dan merengek-rengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.

"Aaahh.. Toni… . .”

“AHhh. . Andrii.. teruss.. sshh.. enakk sekalii"

"Nikmatin ya sayang.. nanti bakal lebih lagi" bisik Andri.
Seraya menjilat dalam-dalam telinga aku.

Mendengar kata Andri, aku seperti tersihir. Menjadi hiperaktif pinggul kuangkat-angkat, ingin Toni melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya vaginaku dengan menyedot-nyedot tonjolan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairan aku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak. Tubuh aku menegang, kupeluk Andri yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.

"Aaagghh.. Toni.. .. Andrii.. .. Ouuuohh" jeritku keras.
Dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam vagina aku. Tubuh aku melemas tergulai sayah.

Toni dan Andri menyudahi pemanasan pembukanya, dibiarkan tubuh aku rehat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata  aku ingat-ingat apa yang baru saja aku alami.
Permainan Andri di payudara dan Toni di vaginaku yang meluncurkan kenikmatan yang belum pernah aku alami sebelumnya.

Dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar nafsu birahi diseluruh tubuh aku. aku semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan. Dan tiba-tiba aku rasakan hembusan nafas ditelinga aku dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah..

Ahh.. bibir dan lidah Andri mulai lagi.

Tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut,

Ternyata Andri sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun Toni sudah bugil, ia membuka kedua paha aku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mata aku terpejam, aku sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuh aku sebagai santapan birahi utama. Ada rasa kuatir dan takut tapi juga menantikan kelanjutannya dengan berdebar. Begitu kurasakan mulut Toni yang berpengalaman mulai beraksi. Hilang sudah rasa kekuatiran dan keakutanku.

Gairah aku  bangkit merasakan lidah Toni menjalar dibibir vagina aku, ditambah lagi Andri yang dengan lahapnya menghisap-hisap puting aku membuat tubuh aku mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuh aku.

"Aaahh.. Toni..”

“ Arggh. . .Andrii.. nngghh.. aaghh" rintihku tak tertahankan lagi.

Toni kemudian mengganjal pinggul aku dengan bantal sofa sehingga bokong aku jadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain di vagina aku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatan aku, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus. Seluruh tubuh aku bagai tersengat aliran listrik aku hilang kendali.

Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku.. kejantanan Andri . . ! ! !  aku mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Andri tidak menggubrisnya ia malah manahan kepala aku dengan tangannya agar tidak bergerak.

"Jilat.. sayang. . " perintahnya tegas.

Aku tidak lagi bisa menolak, kujilat batang kontolnya yang besar dan sudah keras.
Andri mendesah-desah merasakan jilatan aku.

"Aaahh.. Sayangg . ... jilat terus.. aaanngghh" desah Andri.

"Jilat kepalanya Sayang . . ." aku menuruti perintahnya yang tak mungkin  aku tolak.

Lama kelamaan aku mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang kontol itu, lidah aku berputar dikepala kemaluannya membuat Andri mendesis menderu-deru.
"Ssshh.. nikmat sekali Sayang.. isep sayanngg.. isep" pintanya diselah-selah desahnya.

Aku tak tahu harus berbuat bagaimana, aku ikuti saja apa yg pernah kulihat di film.
Kepala kontolnya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, Andri meringis.

"Jangan pake gigi SAyang.. isep aja" protesnya .
Kucoba lagi, kali ini Andri mendesis nikmat.

"Ya.. gitu Sayangg.. sshh.. enak.. sayang. . ."

Melihat Andri saat itu membuatku turut larut dalam kenikmatannya. Apalagi ketika sebagian kontolnya mendesak masuk menyentuh langit-langit mulut aku. Belum lagi kenakalan lidah Toni yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluanku.

Aku semakin terombang-ambing dalam gelombang lautan birahi yang melanda tubuh aku, aku bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kontol Andri yang separuhnya berada dalam mulutku.

Beberapa saat kemudian Andri mempercepat gerakan bokongnya dan menekan lebih dalam batang kontolnya, tangan aku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulut aku. aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepala aku hendak melepaskan kontol panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepala aku membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Andri bertambah beringas keluar masukin batang kontolnya dan..

"Aaagghh.. nikmatt..Sayang.. . .”aku.. kkeelluaarr" jerit Andri.

Air Sperma nya menyembur-nyembur keras didalam mulut aku membuat aku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokan aku sebagian lagi tercecer keluar dari mulut gw.

Aku sampai tersedak-sedak dan meludahkansedikit membuang sisa yang masih ada dimulut gw.

Toni tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dada aku dengan bantal sofa.

"Gila Andri.. kira-kira dong" celetukku sambil bersungut-sungut.

"Sorry Sayangg. . . nggak tahan.. abis sedotan kamu enak banget" jawab Andri dengan tersenyum.

"Udah Sayang jangan marah, kamu masih baru nanti lama-lama juga bakal suka", sela Toni.
 Seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa air pejuh dari mulut aku.

Toni benar, aku sebenarnya tadi menikmati sekali, apalagi melihat mimik Andri saat akan keluar hanya saja semburannya yang membuatku kaget. Toni membujuk dan memeluk gw dengan lembut sehingga kekesalan gw segera padam.

Dikecupnya kening gw, hidung gw dan bibir gw. Kelembutan perlakuannya membuat gw lupa dengan kejadian tadi. Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan-lumatan yang semakin memanas dan kami pun saling memanggut.  lidah Toni menerobos mulut gw meliuk-liuk bagai ular, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telinga aku kembali menjadi sasarannya.

Membuatku sulit menahan desahan-desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulut aku.

Toni merebahkan tubuh gw kembali dilantai beralas karpet, kali ini dada aku dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi di plintir-plintir oleh jari-jarinya. Dari dada kiriku tangannya melesat turun ke vagina aku, dielus-elusnya kelentit dan bibir vagina aku. Tubuh gw langsung mengeliat-geliat merasakan kreatif nya jari-jari Toni.

"Ooouuhh.. mmhhhrrh.. ngghh.. sshh" desisku tak tertahan.

"Teruss.. Toni.. aarrhgkkhh"

Aku menjadi lebih menggila waktu Toni mulai memainkan lagi lidahnya di vgina aku, seakan kurang lengkap kenikmatan yang  aku rasakan. Kedua tanganku meremas-remas payudara aku sendiri.

"Ssshh.. nikmat Toni.. mmpphh" desahanku semakin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian Toni merayap naik keatas tubuhku, aku berdebar menanti apa yang akan terjadi. Toni membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung kejantanannya menyentuh mulut kewanitaanku yang sudah basah oleh cairan cinta.

"Aauugghh.. Tonn.. pelann" jeritku lirih, saat kepala kejantanannya melesak masuk kedalam rongga kemaluanku.

Toni menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang kewanitaanku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu yang aneh segera saja menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuhku. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuhku membuat pinggulku mengeliat-geliat mengikuti sodokan- sodokan Toni.

"Ooohh.. Toni.. sshh.. aargghh.. enakk Toni" desahku lirih.

Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut vagina aku. Mata aku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawah gw seraya mendesis.
"Enak.. Sayaang" tanya Toni berbisik.

"Hu um Toni.. oouwhh Enakk.. Toni.. sshh"

"Nikmatin Sayang.. nanti lebih enak lagi" bisiknya lagi.

"Ooohh.. Toni.. nggaaahh"

Toni terus mengayunkan bokongnya turun-naik-tetap sebatas ujung kontolnya, dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Toni menekan kontolnya lebih dalam membelah bibir vagina aku.

"Auuhh.. sakitt Tonn" jeritku.
Di saaat kontolnya merobek selaput dara aku, rasanya seperti tersayat silet, Toni menghentikan tekanannya.

"Pertama sedikit sakit Sayaaang.. nanti juga hilang kok sakitnya" bisik Toni seraya menjilat dan menghisap telinga aku.

Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti aku mulai merasakan nikmatnya milik Toni yang keras dan hangat didalam rongga vagina aku.

Toni kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kontolnya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kontolnya dirongga vagina aku menimbulkan sensasi yang luar biasa!
Setiap sodokan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar.
"Ssshh.. OOhh.. Auhh.. Enakk Toni.. empphh" desahku tak tertahan.

"Ohh.. Sayaang.. enak banget punya kamu.. Ouuohh" puji Toni diantara lenguhannya.

"Agghh.. terus Tonn.. teruss" aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya sodokan-sodokan kontol Toni di vagina aku.

Peluh-peluh birahi mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit kontol Toni menebar kenikmatan ditubuh aku. Lahar birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuh aku tak lagi mampu menahan genjotannya.

"Toni . . .. Ouuohh.. tekan Toni.. argghh.. nikmat sekali Toni" jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulut aku.

Tubuh aku mengejang,  aku peluk Toni erat-erat, lahara birahi aku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung vagina aku.

Tubuh aku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Toni mulai lagi memacu gairah gw. Hisapan dan remasan didada aku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahi gw. Lagi-lagi tubuh gw dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi.

Tubuh gw dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali vagina aku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Toni sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuh gw. Selagi posisi gw di atas Toni, Andri yang dari tadi hanya nonton serta menghampiri kita, dengan berlutut ia memeluk gw dari belakang. Leher gw dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dada aku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitoris gw membuat gw menjadi tambah meradang kepanasan.

Kutengadahkan kepala aku bersandar pada pundak Andri, mulut gw yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan Andri  gw balas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah.

Bokong aku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. aku begitu menginginkan kejantanan Toni mengaduk-aduk seluruh isi rongga vagina aku yang meminta lebih dan lebih lagi.

"Aaargghh.. Sayanng.. enak banget.. terus Sayang.. goyang terus" erang Toni.

Erangan Toni membuat gejolak birahi gw semakin menjadi-jadi. aku remas buah dada aku sendiri yang ditinggalkan tangan Andri..
Ohh aku sungguh menikmati semua ini.

Andri yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Toni duduk disofa dengan kaki menjulur dilantai, aku pun merangkak kearah batang kontolnya.

"Isep Sayaang" pinta Toni.
 Segera kulumat kontolnya dengan rakus.

"Ooohh.. enak Sayang.. isep terus"

Bersamaan dengan itu kurasakan Andri menggesek-gesek bibir vagina aku dengan kepala kontolnya. Tubuh gw bergetar hebat, saat batang kontol Andri yang satu setengah kali lebih besar dari milik Toni. Dengan perlahan menyeruak menembus bibir vagina aku dan terbenam didalamnya.

Sodokan-sodokan kontolnya Andri serasa membakar tubuh, birahi gw kembali menggeliat keras. aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kejantanan didalam tubuh gw. Batang kontol Toni gw lumat dengan sangat bernafsu. Kesadaran gw hilang sudah naluri gw yang menuntun melakukan semua ini.

"Sayang terus Sayang.. aku ngga tahan lagi.. Aaarrgghh" erang Toni.
Aku tahu Toni akan segera menumpahkan cairan pejuuh nya dimulut gw, aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat gw rasakan semburan-semburan hangat sperma Toni.

"Aaarrgghh.. nikmat banget Sayaang.. isep teruss.. telan sayang" jerit Toni.  Lagi-lagi naluri gw menuntun agar aku mengikuti permintaan Toni.  aku hisap kontolnya yang menyemburkan cairan hangat dan..  gw telan cairan itu. Aneh!
Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Toni yang mencapai klimaks, yang pasti aku sangat menyukai cairan itu. Gw lumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas dan letoy.

Toni beranjak meninggalkan aku dan Andri, sepeninggal Toni aku merasa ada yang kurang. Ahh.. ternyata dikerjai dua pria jauh lebih mengasikkan buat gw. Namun sodokan-sodokan kontol  Andri yang begitu bernafsu dalam posisi nungging  dapat membuat gw kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya lubang anus gw. Bukan hanya itu, setelah diludahi Andri bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anus gw. Sodokan-sodokan di vagina aku dan Ibu jarinya dilubang anus membuat gw mengerang-erang.

"Ssshh.. engghh.. yang keras Drii.. mmpphh"

"Enak banget Andrii.. aarrhh.. oouuhh"

Mendengar erangan gw  Andri tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya gw rasakan tambah dalam menembus anus gw, membuat gw tambah lupa daratan.

Sedang asiknya menikmati, Andri mencabut kontolnya dan Ibu jarinya.

"Andrii.. kenapa dicabutt" protes gw.

"Masukin lagi Andri.. pleasee" pinta aku menghiba.

Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah Andri berceceran di lubang anus gw. Tapi kali ini lebih banyak. aku masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Andi mulai menggosok kepala kontolnya dilubang anus baru aku sadar apa yang akan dilakukannya.
"Andrii.. pleasee.. jangan disitu" aku menghiba meminta Andri jangan melakukannya.

Andri tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluan gw hilang sudah protes gw. Tiba-tiba gw rasakan kepala kontolnya sudah menembus anus gw. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anus gw dan tenggelam habis didalamnya.

"Aduhh sakitt Andrii.. arrrgkhh..!" keluh gw pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Andri.
"Rileks Sayang.. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya" bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitoris gw.

Separuh tubuh gw yang tengkurap disofa sedikit membantu gw, dengan begitu memudahkan aku untuk mencengkeram dan mengigit bantal sofa untuk mengurangi rasa perih. Lama kemudian rasa perih itu hilang, aku bahkan mulai menyukai batang keras Andri yang menyodok-nyodok anus gw. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuh gw.

"Aaarrrhh.. OOaauuhh.. OOoouuhh Andrii" erang-erangan birahi gw mewarnai setiap genjotan kontol Andri yang gede itu.

Andri dengan liar menghentak-hentakan bokongnya. Semakin keras Andri menusuk- nusuk kontolnya ke dalam memek gw, semakin aku terbuai dalam kenikmatan yang dasyat.

Toni yang sudah pulih dari rehatnya tak ingin hanya menonton saja, ia kembali bergabung membayangkan akan menjarah lagi dan menaikan tensi birahi gw. Atas inisiatif Toni kami pindah kekamar tidur, jantung gw berdebar-debar menanti gaya mainnya mereka.

Toni merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuh gw ditarik menindihinya. Sambil melumat mulut gw yang segera gw. Dengan bernafsu ia membuka lebar kedua paha aku dan langsung menancapkan kontolnya kedalam vagina aku. Andri yang berada dibelakang membuka belahan pantat gw dan meludahi lubang anus gw.

Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran nafsu birahi yang tak terkendali ditubuh gw. Sensasi sexual yang luar biasa hebat,  gw rasakan saat kontol mereka yang keras mengaduk-aduk rongga vagina gw dan anus gw. Genjotan- genjotan milik mereka dikedua lubang gw memberi kenikmatan yang tak tergantikan.

Andri yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuh gw terlentang diatasnya, kontolnya tetap berada didalam anus gw. Toni langsung membuka lebar-lebar kaki gw dan menghujamkan kontolnya di vagina gw yang terpampang terbuka.

Posisi ini membuat gw semakin liar, karena bukan hanya kedua lubang gw yang digarap mereka tapi juga payudaara aku. Andri dengan mudahnya memagut leher gw dan satu tangannya meremas buah dada aku. Toni melengkapinya dengan menghisap puting buah dada aku satunya. aku sudah tidak mampu lagi menahan terpaan ini. 

Kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuh gw. Hantaman-hantaman Toni yang semakin liar dibarengi sodokan Andri, sungguh tak tergantikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam vaginak gw akan meledak, keliaran gw menjadi-jadi.

"Aaarrgghh.. Oouuhh.. Toni.. Andrii.. tekaann" jerit dan erang gw tak karuan.

Dan tak berapa lama kemudian tubuh gw serasa melayang di langit ke tujuh, gw cengkram pinggul Toni kuat-kuat,  gw tarik agar batangnya menghujam keras di vagina gw, dan semuanya menjadi gelap gulita. Jeritan gw, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.

"Aduuhh.. Toni.. Andrii.. nikmat sekalii"

"Aaarrghh.. Sayang.. enakk bangeett . . .! ! ! "

Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubang gw. Tubuh gw bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuh gw mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan di vagina gw dan akhirnya kami.. terkulai lemas.

Sepanjang malam tak henti-hentinya kami mengayuh kenikmatan demi kenikmatan sampai akhirnya tubuh kami tidak lagi mampu mendayung. Kami terhempas kedalam mimpi dengan senyum kepuasan. Dihari-hari berikutnya bukan hanya Andri dan Toni yang memberikan kepuasan, tapi juga pria-pria lain yang aku sukai. Tapi aku tidak pernah bisa meraih kenikmatan bila hanya dengan satu pria. Selesai

Cerita dewasa, Kumpulan cerita sex, blowjob, handjob, cerita sex dewasa, cerita seks dewasa, tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17+ tahun,cerita bokep