Tante Gatel Memeknya

Cerita Sex Tante Hot Sange - Tante Maya dengan usia yang sudah matang kisaran 30an tahun memiliki wajah yang cantik dan molek, di tambah dengan tubuh yang masih singset dan sexy aduhaaaai alaaamak. Dengan ukuran tetek yang terbilang lumayan yaitu 35A. 
cerita sex tante hot, kisah mesum tante sange, cerita dewasa tante binal, kisah mesum tante, memek tante enak, kentu memek tante, ML bareng tante, tante panas, kisah tante jablay
Tante Gatel Memeknya
Lelaki mana yang tidak tergoda oleh kecantikan dan kemolekan Tante Maya. Tante Maya merupakan wanita yang memiliki usaha sendiri , yaitu salon potong rambut dan kecantikan. Terbilang Tante Maya ekonomi nya tergolong sangat mapan. Akan tetapi selama dalam menjalankan usahanya, Tante Maya begitu sangat kesepian. Karena Suaminya yang terus bekerja di luar kota dan Tante Maya sudah dikaruniai 2 orang anak.

Saat aku sedang cukur rambut di Salon tempat Tante Maya dan selama waktu pemangkasan rambut , aku mengajaknya ngobrol ini itu . sampai kami pun akrab dengan celotehan-celotehan kita.

Setelah aku habis di cukurnya, aku menemaninya mengobrol saat salon nya mulai sepi dengan pengunjung.

Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan keluarga Tante Maya. Apalagi kemudian Tante Maya meminta aku untuk memberikan kursus privat komputer pada Radit dan Raka, dua anaknya yang masing-masing kelas duduk di kelas 1 SMP dan kelas 4 SD. Karena rumahnya dekat, aku mau saja, lagi pula Tante Maya setuju membayarku tinggi.

Aku dan Tante Maya sering sms-sms san, terutama kalau ada tebakan dan SMS lucu. Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu kali aku bermaksud mengirim SMS ke Rini yang isinya.
“Hai cinta.. sedang apa? Aku rindu U. .. Pengen deh sayang-sayangan dengan  U. . lagi.. Aku pengen kita bercinta lagi..”

Karena waktu itu aku juga baru saja ber-SMS dengan Tante Maya, refleks tanganku mengirimkan SMS itu ke Tante Maya!

Aku sama sekali belum sadar telah salah kirim sampai kemudian laporan di HP-ku datang:
 “OMG. . . .!”
Aku langsung memikirkan alasan jika Tante Maya menanyakan SMS itu. Benar! tidak lama kemudian Tante Maya membalas SMS salah sasaran itu.
“Wah.. Ini SMS ke siapa ya kok romantis begini..

Wah, untung aku dan Tante Maya sudah akrab.  Jadi walaupun nakalku ketahuan, tidak masalah.

“Maaf, Tante. Aku salah kirim. Pas lagi horny nih..

“ Maaf ya Tante..” balasku.

Aku sengaja berterus terang tentang ‘horny’ku karena ingin tahu reaksi Tante Maya.

“Wah.. U. . ternyata sudah berani begituan ya ! SMS itu buat pacarmu ya?”

“Bukan Tante. Itu TTM-ku. Teman Tapi Mesra.. Hahaha.. Tidak ada ikatan kok, Tante..”

Beberapa menit kemudian, Tante Maya tidak membalas SMS-ku. Mungkin sedang sibuk. Oh, tidak, ternyata Tante Maya meneleponku.

“Lagi dimana Boy?” Tanya Tante Maya.

Suaranya lebih akrab daripada biasanya.

“Di kamar aja, Tante. Maaf ya tadi SMS-ku salah kirim. Jadi ketahuan deh aku lagi pengen..” jawabku. Kudengar Tante Maya tertawa lepas. Baru kali ini aku mendengarnya tertawa sebebas ini.

“Aku tadi kaget sekali. Kupikir si Boy ini anaknya alim, dan tidak mengerti begitu-begituan. Ternyata.. Hot sekali!

“Hm.. Tapi memang aku alim lho, Tante..” kata aku bercanda.

“Wee.. Alim tapi ngajak bercinta.. Siapa tuh cewek?”

“Ya teman lama, Tante. Partner sex-ku yang pertama.” Aku  bicara blak-blakan. Bagiku sudah kepalang tanggung. Aku rasa Tante Maya bisa mengerti  aku.

“Wah.. Kok dia mau ya tanpa ikatan denganmu?” tanyanya heran. Aku yang dulu juga sering heran. Tetapi memang pada kenyataannya, sex tanpa ikatan sudah bukan hal baru di jaman ini.

“Kami bersahabat baik, Tante”.

“ Sex hanya sebagian kecil dari hubungan kami.” Jawabku apa adanya.

Aku tidak mengada-ada. Dalam beberapa bulan kami berteman, aku baru satu kali bercinta dengan Rini. Jauh lebih banyak kami saling bercerita, menasehati dan mendukung.
“Wah.. Baru tahu aku ada yang seperti itu di dunia ini. Kalau kalian memang cocok, kenapa tidak pacaran saja?”

“Kami belum ingin terikat. Terkadang pacaran malah membuat batasan-batasan tertentu. Ada aturan, ada tuntutan, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kami belum menginginkan itu.”

“Lalu, apa partnermu cuma si Rini dan partner Rini cuma U. .?” selidik Tante Maya.

“Kalau tentang Rini aku tidak tahu. Tapi tidak masalah bagiku dia bercinta dengan laki-laki lain. Aku pun begitu, Tapi tentu saja kami sama-sama bertanggung jawab untuk berhati-hati. Kami sangat selektif dalam bercinta. Takut penyakit, Tante.”

“Oh.. Safe Sex ya? “

“Yup! Oh ya dari tadi aku seperti obyek wawancara. Tante sendiri bagaimana dengan Om? Kapan terakhir berhubungan sex?” Tanya aku melangkah lebih jauh.

Kudengar Tante Maya menarik nafas panjang. Wah.. Ada apa-apa nih, pikirku.

“Udah kira-kira 2 bulan yang lalu, Boy.” Jawabnya.

Lama sekali. Pasti ada yang tidak wajar. Aku jadi ingin tahu lebih banyak lagi.

“ Koh Fery Impotent ya Tante?”

“Oh tidak.. Entah kenapa, dia sepertinya tidak bergairah lagi pada aku. Padahal dia dulu sangat menyukai sex. Minimal satu minggu satu kali kami berhubungan.”

“Lho, Tante Maya berhak minta dong. Itu kan nafkah batin. Setiap orang membutuhkannya.

Sudah pernah berterus terang, Tante?” Tanya aku.

“Aku sih pernah memberinya tanda bahwa aku sedang ingin bercinta. Tetapi dia kelihatannya sedang tidak bernafsu. Aku tidak mau memaksa siapa pun untuk bercinta denganku.”

“Oh.. Kalau Boy sih tidak perlu dipaksa, juga mau dengan Tante Maya..” goda aku asal saja.

Toh kami sudah akrab dan ini memang waktu yang tepat untuk mengarah ke sana.

“Boy, U. . itu cakep. Masa mau dengan orang seumuran aku ? Suamiku saja tidak lagi tertarik denganku..”

“Tante Maya serius? Aku tidak menyangka lho Tante Maya bisa bicara seperti ini. Tante Maya masih muda. 35 tahun. Seksi dan modis. Kok bisa-bisanya tidak pede gitu? “

“Padahal Tante Maya terlihat sangat kuat di mata aku..” aku tidak bisa menyembunyikan kekagumannku. Bagaimana bisa, sebuah SMS salah sasaran, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi obrolan sex yang sangat terang-terangan seperti ini.

“U. . lagi nganggur kan? Datang ke rumahku sekarang ya? Suamiku tidak ada di rumah kok. Dia masih di kantor.”

Telepon ditutup. Darahku berdesir. Benarkah ini? Seperti mimpi. Sangat cepat. Bahkan aku tidak pernah bermimpi sebelumnya untuk mendapatkan Tante Maya. Selama ini aku sangat menghormatinya sebagai clientku. Sebagai orang tua dari murid privatku.

Bergegas aku mengambil kunci mobil dan pergi ke rumah Tante Maya. Di sepanjang jalan aku masih tidak habis pikir. Apakah benar nanti aku akan bercinta dengan Tante Maya? Rasanya mustahil. Ada Cynthia dan Mbak Ning di rumahnya. Belum lagi kalau ternyata Radit dan Raka juga sudah pulang dijemput sopirnya.

Sampai di rumah Tante Maya, ternyata rumahnya sedang sepi. Cynthia sedang tidur dan hanya Mbak Ning yang sedang santai menonton televisi.

“Di tunggu Ibu di ruang computer, Kak.” Kata Mbak Ning. Dia memanggilku ‘kakak’ karena usia aku masih lebih tua darinya.

“Oh iya.. Terima kasih, Ning. Ada urusan sedikit dengan programnya nih.” Kata aku memberikan alasan kalau-kalau Mbak Ning bertanya-tanya ada apa aku datang.

Aku masuk ke ruang computer yang di dalamnya juga ada piano dan lemari berisi buku-buku koleksi Tante Maya.

“Tutup saja pintunya, Boy.” Kata Tante Maya.

Tiba-tiba jantungku berdebar sangat keras. Entah mengapa, berbeda dengan menghadapi Lucy, Rini dan MAya, aku merasa aneh berdiri di depan seorang wanita mungil yang usianya di atasku. Setelah aku menutup pintu, belum sempat aku duduk, Tante Maya sudah melangkah menghampiriku. Dia memelukku. Tingginya cuma sebahuku. Harum tubuhnya segera membuatku berdesir. Pelukannya sangat lembut. Kepalanya disandarkan ke dada aku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah pengalaman pertama aku dengan wanita yang usianya di atasku. Aku  takut salah. Apa aku harus berdiam diri saja? Memeluknya? Menciumnya? Atau langsung saja mengajaknya bercinta? Pikiranku saling memberi ide. Banyak ide bermunculan di otakku. Beberapa saat lamanya aku bingung. Pusing tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya aku memilih tenang.

Aku ingin tahu apa yang Tante Maya inginkan. Aku akan mengikutinya. Kali ini aku main safe saja. No risk taking this time.

“Tante Maya adalah masalah?” bisikku. Kurasakan pelukan Tante Maya semakin erat. Dia tidak menjawab. Aku juga diam. Benar-benar situasi baru. Pengalaman baru. Kurasakan penisku tidak bergerak. Rupanya pelukan Tante Maya tidak membangkitkan gairahku.

“Aku cuma ingin memelukmu. Sudah lama aku tidak merasa senyaman ini di pelukan seorang laki-laki. U. . tidak keberatan kan aku memelukmu?” akhirnya Tante Maya berbicara.

“Tentu saja aku tidak keberatan, Tante. Peluk saja sepuas Tante Maya. Apapun yang Tante Maya inginkan dariku, kalau aku mampu, aku akan melakukannya.” Kurasakan tangannya mencubitku.

“Sok romantis U. ., Boy. Tante bukan gadis remaja yang bisa melayang mendengar kata-kata rayuanmu.. Wuih, apapun yang kau inginkan dariku.. tante akan melakukannya.. Hahaha.. Gak usah pakai begituan. Tante  sudah sangat senang kalau U. . mau kupeluk begini..”

Benar juga kata Tante Maya. Hari itu aku belajar menghadapi wanita dewasa. Belajar apa yang mereka butuhkan. Bagi Tante Maya, kata-kata manis tidak diperlukan. Tapi tentu saja, aku tidak seratus persen percaya.

Bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pujian dengan tulus. Perasaan wanita sangat peka. Wanita punya aura untuk mencerna setiap kata-kata laki-laki itu. Apakah rayuan, apakah pujian yang tulus, atau hanya bunga bahasa untuk tujuan tertentu. Dan aku memilih untuk memujinya dengan setulus hatiku.

“Tante Maya, aku beruntung bisa dipeluk wanita sepertimu. Siapa sangka SMS salah kirim bisa berhadiah pelukan?” canda aku, hehehe… Memang benar aku merasa beruntung. Ini bukan bunga bahasa, bukan rayuan. Dan aku yakin perasaan Tante Maya akan menangkap ketulusanku.

“Yah.. Tante  simpati denganmu yang bisa bergaul akrab dengan anak-anakku. U. . juga tidak merendahkan.

“Kulihat memang pantas kau mendapatkan pelukanku, Boy..” bisik tante Maya lagi.

Kali ini wajahnya mendongak menatapku. Ada senyum tipis menghias bibirnya. Ugh.. Aku jadi ingin menciumnya.

Di satu sisi aku tahu bahwa aku salah. Tante Maya sudah berkeluarga dan keluarganya harmonis. Tapi di sisi lainnya, sebagai cowok normal aku menikmati pelukan itu. Bahkan aku ingin lebih dari sekedar pelukan. Aku ingin menciumnya, melepaskan pakaiannya, dan memberinya sejuta kenikmatan. Apalagi Tante Maya sudah 2 bulan lebih tidak mendapatkan nafkah batin. Pasti dia sangat haus sekarang.

Aku mulai memperhitungkan situasi. Kami dalam ruang tertutup yang walaupun tidak terkunci, cukup aman untuk beberapa saat..

Perlahan aku memberanikan diri menyentuh wajah Tante Maya. Dengan dua buah jariku, aku membelai wajahnya lembut. Mata aku menatapnya penuh arti. Kulihat Tante Maya gelisah, tetapi ia menikmati sentuhanku di wajahnya. Aku menggerakkan wajahku menunduk mencari bibirnya. Sekejap kami berciuman. Bibirnya sangat penuh. Sangat hangat. Baru beberapa detik, ciuman kami terlepas. Tante Maya menyandarkan kepalanya ke dada aku.

“Tante  salah, Boy. Tante  mulai menyayangimu..” bisiknya nyaris tidak kudengar.

Aku yang sudah merasakan ciumannya mendadak ingin lebih lagi. Dasar cowok!, rutukku dalam hati. Apalagi aku sedang horny. Aku mencoba mengangkat wajahnya lagi. Ada sedikit penolakan, tapi wajahnya menatapku kembali.

Aku tidak berani menciumnya. Dan Tante Maya menciumku, menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku. Dan akhirnya kami bercumbu dengan hasrat membara. Kami sama-sama kehausan.. Agh.. Aku tidak peduli lagi. Wanita yang kuhormati ini sedang kupeluk dan kucumbu. Dia membutuhkanku dan aku juga membutuhkannya. Yang lain dipikirkan nanti saja. Nikmati saja dulu, pikirku cepat.

Aku segera menggendongnya dan membantunya duduk di atas meja. Dengan begini aku akan lebih leluasa mencumbunya. Bibir kami saling melumat. Bergerak lincah saling berlomba memberi kenikmatan tiada tara.

Tanganku mulai bergerak ke arah teteknya. Aku meraba teteknya dari luar. Memberi remasan ringan dan gerakan memutar yang membuat Tante Maya menggelinjang. Perlahan aku menyusupkan tanganku ke balik pakaiannya. Kurasakan tanganku tertahan. Tante Maya menolak. Rupanya dia hanya ingin bercumbu denganku.

Dasar cowok, aku mana tahan? Sudah kepalang tanggung. Aku nekat tetap memasukkan tanganku dan dengan cepat aku berhasil melepas kait bra-nya. Teteknya terasa utuh di tanganku, masih sangat kencang, masih sangat peka dengan rangsangan. Buktinya Tante Maya bergetar hebat saat aku meremas teteknya.

“Gila U. ., Boy. tante tidak memerlukan ini semua.. Cukup peluk tante!” tegur Tante Maya.

Aku tahu pikirannya memang menolak, tapi tubuhnya tidak. Aku tetap merangsang teteknya. Gerakan menolak tante Maya melemah. Dan akhirnya hanya desahan nafasnya yang memburu yang menandakan birahinya telah bangkit. Dengan mulutku aku membuka kancing-kancing kemejanya. Cukup sulit, karena ini baru pertama kali kulakukan. Tapi berhasil juga. Tante Maya tertawa melihat ulahku.

Kini aku bebas mencumbu teteknya. Kujilat dan kuhisap puting susunya. Tante Maya melenguh panjang. Kedua tangannya mencengkeram kepalaa aku. Wajahnya mencium rambutku. Sesekali dia menggigit telinga aku, sementara kepala aku, lidahku, bergerak bebas merangsang teteknya. Ugh, begitu enak dan nikmat. Teteknya tidak terlalu besar namun seksi sekali. Warnanya coklat kekuningan dengan puting yang cukup besar.

Aku bermain cukup lama di putingnya. Menggigit ringan, menyapukan lidahku, menghisapnya lembut sampai agak keras. Kadangkala hidungku juga kumainkan di putingnya. Nafas Tante Maya semakin memburu. Tentu saja untuk masalah nafas, aku lebih kuat darinya karena aku rajin berolahraga menjaga stamina.

Tak lama tanganku menyusup ke balik roknya untuk mencari vaginanya dan membelainya dari luar. Kurasakan celana dalamnya telah basah. Tante Maya merapatkan kakinya. Itu adalah penolakan yang kedua. Kepalanya menggeleng saat kutatap matanya.

Aku terus menatap matanya dan kembali mencumbunya. Aku tidak akan memaksanya. Tetapi aku punya cara lain. Aku akan membuatnya semakin terangsang dan semakin menginginkan persetubuhan. Perlahan cumbuanku turun ke lehernya.

“Ergh,” kudengar lenguhannya. Wah, lehernya sensitif nih, pikirku. Dengan intensif aku mencumbunya di leher. Bergerak ke tengkuk hingga membuatnya semakin erat memelukku dan mencumbu telinganya.

“Boy..” rintihnya. Telinganya juga sensitif.

Tante  bersorak. Semakin banyak titik tubuhnya yang sensitif, semakin bagus. Lalu tanganku meraba punggungnya. Membuat gerakan berputar-putar dan seolah menuliskan sesuatu di punggungnya. Tante Maya semakin bergairah.

“Ka.. mu.. Na.. kal. U. . pin.. Pintar sekali membuatku.. Bergairah..” jawabnya terputus-putus. Nafasnya semakin memburu.

“Tante Maya cantik sekali. Aku sangat menginginkanmu, Tante.. Aku ingin membuatmu merasakan kenikmatan tertinggi bersama aku..” bisikku sambil terus mencium telinganya.
“Tante juga menginginkanmu Boy.. Tapi tante takut..” jawab tante Maya.

Ya, aku harus membuatnya merasa aman. Dengan gerakan cepat aku melepaskan pelukanku, mengganjal pintu dengan kursi dan kembali mencumbunya. Saat itu di pikiranku cuma satu. Mengunci pintu justru tidak baik. Mengganjal pintu jauh lebih baik. Kulihat Tante Maya merespons ciumanku dengan lebih kuat. Tanganku kembali mencoba merangsang vaginanya. Kali ini kakinya agak terbuka. Aku berhasil memasukkan jariku dan menyentuh vaginanya.

“Aarrrrrrrrrrrrrhhhhhh..” Tante Maya semakin terangsang. Kakinya terbuka semakin lebar. Kini aku sangat leluasa merangsang vaginanya. Jariku masuk menemukan klitoris dan membuatnya makin hebat dilanda badai birahi.

Entahlah, aku sangat tenang dalam melakukannya. Semakin intensif aku merangsang titik-titik lemah tubuhnya, aku semakin tenang. Aku seperti maestro yang sangat ahli melakukan tugasnya. Wah, rupanya aku berbakat dalam menyenangkan wanita, pikirku sampai tersenyum sendiri.

Tante Maya semakin dilanda birahi. Tangannya kini tidak malu-malu melepas kancing celana aku dan mencari penisku. Setelah menemukannya di balik celana dalamku, dia meremas dan mengocoknya. Aku semakin terbakar. Kami sama-sama terbakar hebat. Perlahan aku melepas turun celana dalamnya. Tidak perlu dilepas. Aku menatap matanya meminta persetujuannya. Mata Tante Maya nanar. Dia sangat kehausan dan sudah pasrah menerima apa pun perbuatanku.

Perlahan penisku menembus liang vaginanya tanpa kondom. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat. Benar-benar jauh lebih nikmat dibandingkan dengan memakai kondom. Aku berani tanpa kondom karena aku yakin dengan kesehatan Tante Maya.

Aku mulai melakukan tugasku. Mendorong masuk, menarik keluar, memutar, memompa kembali dan kami bercinta dengan dahsyat. Suara penisku yang mengocok vaginanya terdengar khas. Aku mengerahkan segenap kekuatanku untuk menaklukkannya. Tetapi benar-benar tanpa kondom membuatku penisku lebih sensitif hingga belum begitu lama, aku sudah merasakan di ambang orgasme.

Segera kuhentikan aksiku. Kucabut penisku dan aku menenangkan diri. Kami berciuman. Aku tidak mau birahi Tante Maya surut. Setelah agak tenang aku kembali memasukkan penisku. Kali ini aku tidak menggebu dalam memompa penisku. Aku memilih menikmatinya perlahan-lahan. Setiap sodokan aku lakukan dengan segenap hati hingga menghasilkan desahan dan rintihan nikmat Tante Maya yang sudah dua bulan tidak merasakan nikmatnya bercinta.

Gelombang badai birahi kembali melanda. Keringat kami bercucuran, lumayan untuk membakar lemak. Kami memang sedang berolahraga, olahraga paling nikmat sedunia. Making love. Bercinta sangat baik untuk tubuh. Tidak hanya tubuh, tetapi pikiran juga jadi fresh. Secara teoretis, ada semacam zat penenang yang dihasilkan tubuh saat kita bersenggama, dan zat itu membuat kita sangat nyaman.

Aku heran juga dengan diriku yang ternyata cukup kuat bercinta tanpa kondom. Penisku terasa agak panas. Aku belajar menahan nafas dan sesekali saat kurasakan aku hendak mencapai puncak, aku menghentikan kocokanku. Cukup sulit memang menahan orgasme. Aku berusaha seperti menahan kencing. Dan usaha aku berhasil. Setidaknya aku bisa bercinta cukup lama mengimbangi Tante Maya yang perlahan tapi pasti semakin menuju puncak. Muka tante Maya semakin kemerahan. Wajahnya yang mungil tampak sangat cantik saat sedang dilanda birahi.
“Tante Maya cantik sekali.. Hebat juga saat bercinta..” bisikku. Lidahku kembali mencumbui teteknya yang semakin penuh dengan keringat.

“Arggghhhhhhh.., U. . juga.. “

“ Enak sekali, Boy..” ceracaunya.

Tante Maya bolak-balik memejamkan mata, membuka mata dan menggigit bibirnya. Nafasnya sangat tidak teratur. Ngos-ngosan dan rambutnya semakin acak-acakan terkena keringat. Wah, pemandangan yang seksi sekali saat seorang wanita bercinta.

Sebenarnya aku ingin mengubah posisi lagi. Aku ingin lebih lama bercinta. Tetapi aku agak khawatir juga. Sudah cukup lama kami di dalam ruangan ini. Aku khawatir nanti tiba-tiba mengintip atau mencuri dengar.

Dari bahasa tubuh Tante Maya, aku yakin orgasmenya sudah semakin dekat. Gerakan tubuhnya semakin cepat. Cengkeraman tangannya di punggungku kurasa telah melukai punggungku. Terkadang giginya bergemeretak menahan nikmat. Dia tampak sekali berusaha untuk tidak menjerit.

“Agh.. Arrhhk.. tante  sudah ham.. pir..” rintihnya.

Tanganku meraih bra Tante Maya dan meletakkannya di mulutnya supaya dia bisa menggigit bra itu. Daripada menjerit, lebih baik menggigit bra sekuatnya. Penisku semakin gencar menghunjam vaginanya. Sodokanku semakin kuat dan temponya kupercepat. Aku belajar untuk sama-sama mencapai orgasme dengan Tante Maya walaupun menurutku sangat sulit untuk bisa orgasme bersamaan. Setidaknya, tante berencana membiarkannya orgasme terlebih dulu, baru aku menyusul.

“Arghh.. Ya.. Terus.. Yah.. Dikit lagi..” erang Tante Maya agak tidak jelas karena sambil menggigit bra.

Aku menjaga semangat dan menjaga penisku agar tetap kuat bertempur. Kurasakan penisku juga semakin panas. Aku juga sudah mendekati puncak. Aliran pejuuuh dari bawah sudah merambat naik siap menyembur. Gerakan Tante Maya semakin menyentak-nyentak. Untung meja di ruangan itu adalah meja kayu yang kosong. Kalau seandainya ada buku atau ballpoint pasti sudah berantakan terlempar.

Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh Tante Maya bergetar hebat. Menghentak-hentak dan tangannya mencengkeram sangat-sangat-sangat-kuat. Dia memelukku sangat erat. Dari mulutnya keluar semacam raungan yang tertahan.. Seandainya ini di kamar hotel, pasti dia sudah menjerit sepuasnya.

“Aargghh.. Sstt..uSsshhhhhhhhh,,,,,,,”

Aku merasakan ada cairan hangat meleleh keluar. Tidak seberapa banyak tetapi membuat penisku semakin panas. Tante Maya orgasme sementara aku juga sudah semakin dekat. Inilah saatnya. Aku mempercepat kocokanku. Cepat.. Dan aku mencabut penisku.

Crot………..Jrooooooooooooottt…..Croooooooooooooottttttt!!

Srr.. sssssR.. Srr.. Srr.. ushhh………..Pejuuuh aku berhamburan muncrat di perut dan dada Tante Maya. Ah.., nikmat sekali mencapai puncak. Perjuanganku tidak sia-sia. Aku yang selama ini rutin berlatih menahan kencing, melatih otot-otot perut dan penisku, sukses mengantarkan Tante Maya menggapai orgasmenya. Dibandingkan saat making love dengan Rini dan Maya, kali ini lebih mendebarkan dan menantang.

Tante Maya segera mencari tissue dan membersihkan ceceran pejuuuh aku. Kurang dari semenit kemudian dia sudah memakai bra dan kemejanya kembali. Celana dalam dan roknya tinggal merapikan saja. Aku pun tinggal merapikan celana aku.

Beberapa saat kami berpandangan. Ada rona puas di wajah Tante Maya. Dia tersenyum manis. Sekarang dia bukan lagi sekedar clientku. Bukan lagi sekedar orang tua muridku. Sekarang dia adalah partner sex-ku. Ada rasa aneh menjalar di tubuhku. Aku tiba-tiba merasa begitu menghormati wanita di hadapanku ini. Sinar matanya yang tegas, pembawaannya yang mandiri, dikombinasi dengan senyum dan kelembutannya, sungguh mempesona. Aku sangat bangga bisa memberinya kenikmatan.

“Maaf Tante.. Sudah melangkah jauh sekali..” kata aku.

“Ya! U. . tidak sopan sekali, tadi!” katanya bergurau tetapi dalam nada agak tegas.

Kami pun tertawa bersama. Aku memeluknya. Mencium dahinya. Merapikan rambutnya yang agak basah terkena keringat. AC di ruangan itu sangat membantu tubuh kami cepat kering.
“Habis Tante Maya, sudah tahu aku lagi horny malah diundang kemari..” kata aku membela diri.

“Terus terang tante juga lagi pengen, Boy. Begitu tahu U. . ternyata sudah pengalaman, tante jadi tergoda denganmu. Tapi memang tadi tante sangat takut melangkah. Untung U. .nya nekat.. tante jadi terpuaskan, deh. Makacih ya..”

Ya ampun.. Bisa-bisanya Tante Maya bicara manja seperti ini. Aku sampai merasa bagaimana.. gitu. Aneh. Wanita memang makhluk paling aneh sedunia. Di balik penampilannya yang keras dan tegar, toh dia tetap wanita juga. Sisi lembutnya tetap ada.

“Ya.. Aku juga senang sekali bisa memuaskan Tante Maya. Aku juga belajar banyak lho. Sepertinya tadi Tante Maya kurang suka dengan permainan tanganku di vagina ya?”
“Bukan begitu. tante tidak tahu apakah tanganmu bersih atau tidak. Tapi lama kelamaan karena enak, ya sudah.. diteruskan saja..”

“Oh jangan kuatir.. Aku selalu sedia handy desinfectant kok. Biar tanganku bebas kuman.” Kata aku menenangkannya. Aku tadi memang pakai handy desinfectant, tapi kan tetap saja aku pegang setir mobil. Haha.. Yang ini tidak aku ceritakan. (Kalau Tante Maya baca cerita ini, maafin ya..)

“Yah baguslah. tante juga suka karena U. . selalu terlihat bersih dan harum..”

Tante Maya mencium bibirku lagi. Kami kembali berpagutan. Lidahku kembali menerobos mulutnya. Menekan lidahnya, saling bergelut. Kami terus berciuman sambil berpelukan.
Banyak laki-laki melupakan kenyataan bahwa ada hubungan yang harus dibina setelah kita berhubungan sex. Setelah terjadi orgasme, wanita tetap membutuhkan sentuhan, pelukan dan ciuman.

Wanita sangat berharga. Jangan sampai kita para laki-laki, begitu mendapatkan orgasme, langsung selesai begitu saja. Harus Ada after orgasm service. Ini adalah salah satu kunci yang aku pegang untuk membuat wanita merasa nyaman bersama aku. Kami berpelukan dan dengan jelas aku mendengar suara Tante Maya..
“Tante menyayangimu, Boy. Terima kasih buat semuanya. tante merasa dihargai dan dibutuhkan olehmu..” kata-kata ini tidak akan pernah aku lupakan. Sekian